ISLAM ABBASIYAH   Leave a comment

Awal berdirinya Bani Abbasiyah

Kekeuasaan Dinasti Abbasiyah adalah melanjutkan kekuasaan Dinasti Abbasiyah. Dinamakan Daulah Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini adalah keturunan Abbas, paman Nabi Muhammad SAW. Dinasti Abbasiyah didirikan oleh Abdullah al-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn al-Abbas. Dia dilahirkan di Humaimah pada tahun 104 H. dia dilantik menjadi khalifah pada tanggal 3 rabiul Awwal 132 H. Dinasti Abbasiyah berkuasa kurang lebih selama enam abad (132 – 656 H / 750 -1258 M).

Gerakan –gerakan perlawanan untuk melawan kekuasaan dinasti Bani Umayah sebenarnya sudah dilakukan sejak masa-masa awal pemerintahan dinasti Bani Umayyah, hanya saja gerakan tersebut selalu digagalkan oleh kekuatan militer Bani Umayyah, gerakan tersebut semakin menguat seiring banyaknya protes dan berbagai kebijakan pemerintahan dinasti Bani Umayyah.

Pada abad ketujuh terjadi pemberontakan diseluruh negeri. Pemberontakan pertama dilakukan oleh keturunan Abbas, yaitu Muhammad ibn Ali, kemudian Ibrahim ibn Muhammad hingga pemberontakan yang paling dahsyat dan merupakan puncak dari segala pemberontakan yakni perang antara pasukan Abu al-Abbas melawan pasukan Marwan ibn Muhammad (Dinasti Bani Umayyah) yang akhirnya dimenangkan oleh pasukan Abu al-Abbas di Fustat, Mesir pada 132 H / 750 M. Sejak itu, secara resmi Dinasti Abbasiyah mulai berdiri.

Dalam khutbah penobatan Abu al-Abbas yang disampaikan setahun sebelumnya di masjid Kufah, Khalifah Abbasiyah pertama itu menyebut dirinya as-Saffih (penumpah darah), yang kemudian menjadi julukannnya. Orang Abbasiyah mengklaim dirinya sebagai pengusung konsep sejati kekhalifahan, yaitu gagasan Negara teokrasi, yang menggantikan pemerintahan sekuler (mulk) Dinasti Umayyah.

Walaupun Abu al-Abbas as-Saffih yang dikenal sebagi pendiri Abbasiyah, namun secara pembinaan sebenarnya yang melakukannya adalah Abu Ja’far Al-Mansur yakni khalifah terbesar Dinasti Abbasiyah. Abu al-Abbas hanya memerintah selamalimatahun pertama, yaitu 750 – 754 M (132 H – 136 H). Dia meninggal karena penyakit cacar air ketika berusia 30-an. Sedangkan Abu Ja’far al-Mansur memerintah selama 21 tahun setelah Abu al-Abbas, yaitu 754 – 775 M / 136 – 158 H.

  1. 1.      Basis Cultural dan dukungan Bangkitnya Dinasti Abbasiyah

Menjelang akhir Daulah Umayyah, terjadi bermacam-macam kekacauan yang disebabkan :

1)      Penindasan yang terus-menerus terhadap pengikut Ali dan Bani Hasyim pada umumnya.

2)      Kaum muslimin non-Arab direndahkan yakni tidak diberi kesempatan dalam pemerintahan.

3)      Pelanggaran terhadap ajaran Islam dan hak-hak asasi manusia dengan cara terang-terangan.

Oleh karena itu, logis kalau Bani Hasyim mencari jalan keluar dengan mendirikan gerakan rahasia untuk menumbangkan Daulah Umayyah. Gerakan ini menghimpun :

a)      Keturunan Ali (Alawiyyin) dipimpin oleh Abu Salamah.

b)      Keturunan Abbas (Abbasiyah) dipimpin oleh Ibrahim al-Iman.

c)      Keturunan bangsaPersiayang dipimpin oleh Abu Muslim al-Khurasan.

Kekacauan-kekacauan yang timbul menjelang tumbangnya Daulah Umayyah tersebut tidak lain karena kekeliruan-kekeliruan dan kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh para khalifah dan pembesar Negara lainnya sehingga terjadilah pelanggaran-pelanggaran terhadap ajaran Islam. Selain kesalahan-kesalahan yang telah disebutkan diatas, mereka juga mendasarkan politik kepegawaian pada klan, golongan, suku, kaum dan kawan. Hal inilah yang memicu munculnya pemberontakan-pemberontakan pada Daulah Umayyah.

  1. 2.      Alur Sirkulasi dan Pasang Surut Kepemimpinan Politik pada Masa Abbasiyah

Pada zaman Abbasiyah konsep kekhalifahan berkembang sebagai system politik. Menurut pandangan para pemimpin Bani Abbasiyah, kedaulatan yang ada pada pemerintahan (Khalifah) adalah berasal dari Allah, bukan dari rakyat sebagaimana diaplikasikan oleh Abu Bakar dan Umar pada zaman khulafaurrosyiddin. Hal ini dapat dilihat dari perkataan khalifah Al-Mansur, “Saya adalah Sultan Tuhan di atas buminya”.

Pada zaman Dinasti Bani Abbasiyah, pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, social, ekonomi, dan budaya. Sistem politik yang dijalankan oleh Daulah Abbasiyah I antara lain :

  1. Para khalifah tetap dari keturunan Arab, sedang para menteri, panglima, gubernur dan para pegawai lainnya dipilih dari keturunanPersiadan mawali.
  2. Kota Baghdad digunakan sebagai ibukotaNegara, yang menjadi pusat kegiatan politik, ekonomi, social dan kebudayaan.
  3. Ilmu pengetahuan dipandang sebagai suatu yang sangat penting dan mulia.
  4. Kebebasan berpikir sebagai HAM diakui sepenuhnya.
  5. Para menteri turunanPersiadiberi kekuasaan penuh untuk menjalankan tugasnya dalam pemerintahan.

Selanjutnya periode II, III, IV, kekuasaan politik Abbasiyah sudah mengalami penurunan, terutama kekuasaan politik sentral. Hal ini dikarenakan negara-negara bagian (kerajaan-kerajaan kecil) sudah tidak menghiraukan pemerintah pusat, kecuali pengakuan politik saja. Panglima di daerah sudah berkuasa di daerahnya dan mereka telah mendirikan pemerintahan sendiri misalnya saja munculnya daulah-daulah kecil, contoh : Daulah Bani Umayyah di Andalusia atau Spanyol, Daulah Fathimiyah.

Pada masa awal berdirinya Daulah Abbasiyah ada dua tindakan yang dilakukan oleh para khalifah Daulah Bani Abbasiyah untuk mengamankan dan mempertahankan diri dari kemungkinan adanya gangguan atau timbulnya pemberontakan yaitu : Pertama, tindakan keras terhadap Bani Umayyah. Dan Kedua, pengutamaan orang-orang turunan Persi.

Dalam menjalankan pemerintahan, khalifah Bani Abbasiyah pada waktu itu dibantu oleh seorang wazir (perdana menteri). Selain itu, dalam menjalankan tata usaha Negara diadakan sebuah dewan yang bernama Diwanul Kitabah (Sekretariat Negara). Dalam zaman daulah Abbasiyah juga didirikan angkatan perang, amirul umara, baitul mal, organisasi kehakiman.

  1. 3.      Dinasti-dinasti Abbasiyah

Selama Dinasti Abbasiyah berkuasa, pola pemerintahan yamng diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, social, ekonomi dan budaya. Berdasarkan perubahan tersebut, para sejarawan membagi masa pemerintahan Bani Abbasiyah menjadi 3 periode, yaitu :

  1. Periode Pertama (750 – 847 M)

Pada periode ini, seluruh kerajaan Islam berada dibawah kekuasaan para khalifah kecualiAndalusia. Adapun para khalifah yang memimpin pada periode ini antara lain :

  1. Abul Abbas as-Saffah (750 – 754 M)
  2. Abu Ja’far al- Mansur (754 – 775 M)
  3. Abu Abdullah M. al- Mahdi bin al- Mansur (775 – 785 M)
  4. Abu Musa al- Hadi (785 – 786 M)
  5. Abu Ja’far harun ar-Rasyid (786 – 809 M)
  6. Abu Musa Muh. Al- Ami (809 – 813 M)
  7. Abu Ja’far Abdullah Al- Ma’mun (813 – 833 M)
  8. Abu Ishak M. Al- Mu’tashim (833 – 842 M)
  9. Abu Ja’far Harun Al- Watsiq (842 – 847 M)
  10. Abdul Fadl Ja’far Al- Mutawakkil (847 – 861 M)
  1. Periode Kedua (847 – 1194 M)

Pada periode ini, kekuasaan bergeser dari sistem desentralisasi, yaitu ke dalam 3 negara otonomi :

  1. Kaum Turki (847 – 945 M)
  2. Kaum Bani Buwaih (945 – 1105 M)
  3. Kaum Bani Saljuq (1105 – 1194 M)

Dinasti-dinasti di atas pada akhirnya melepaskan diri dari kekuasaanBaghdadpada mada khalifah Abbasiyah.

  1. Periode Ketiga (1194 – 1258 M)

Pada periode ini, kekuasaan berada kembali ditangan khalifah, tetapi hanya diBaghdaddan kawasan-kawasan sekitarnya.

Dalam versi lain, para sejarawan membagi masa pemerintahan Bani Abbasiyah menjadilimaperiode :

  1. Periode Pertama (132 – 232 H / 750 – 847 M) disebut periode pengaruhPersiapertama.
  2. Periode Kedua (232 – 334 H / 847 – 945 M) disebut periode Turki pertama.
  3. Periode Ketiga (334 – 447 H / 945 – 1105 M) disebut Dinasti Buwaih dalam pemerintahan khalifah Abbasiyah.
  4. Periode Keempat (447 – 590 H / 1105 – 1194 M), masa kekuasaan Dinasti Saljiq yang biasa disebut dengan masa pengaruh Turki kedua.
  5. Periode Kelima (590 – 656 H / 1194 – 1258 M), masa khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif di Baghadad.
  1. 4.      Perkembangan Ilmu, Hukum, Filsafat, Sains dan Tasawwuf pada Masa Abbasiyah

Sederet kejayaan Islam telah merentang panjang di masa Dinasti Abbasiyah. Menurut Al- Thabari dalam tarihk Al- Umam wa al- Mulk, Dinasti ini berkuasa sejak tahun 132 H – 656 H atau tahun 750 M – 1258 M. Kalangan barat menilai masa Dinasti Abbasiyah ini sebagai “The Most Brilliant Period” atau masa paling cemerlang. Sedangkan Stephen Humphrey mengungkapkan kehadiran Abbasiyah ini merupakan titik balik paling menentukan dalam sejarah Islam.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Harun ar-Arasyid, kemajuan intelektual pada waktu itu setidaknya dipengaruhi oleh dua hal,yaitu :

  1. Terjadinya asimilasi antara bangsa Arab dan bangsa-bangsa yang lebih dahulu mendahului perkembangan dalam ilmu pengetahuan.
  2. Gerakan terjemah yakni usaha penerjemahan kitab-kitab asing dilakukan dengan giat sekali sehingga membawa pengaruh pada perkembangan ilmu pengetahuan umum terutana di bidang astronomi, kedokteran, filsafat, kimia dan sejarah.

Dari hasil ijtihad dan semangat Riset, para ahli ilmu pengetahuan dan alim ulama’ berhasil menemukan berbagai keahliaan berupa penemuan berbagai bidang-bidang ilmu pengetahuan, antara lain :

  1. Ilmu Filsafat dengan tokohnya Al- Kindi, Al farabi, Ibnu Bajah, Ibnu Thufail, Ibnu Sina, dan lain-lain.
  2. Bidang kedokteran dengan tokohnya Jabir bin Hayyan, Ar- Razi, Hurain bin Ishaq dan Thabib bin Qurra.
  3. Bidang matematika dengan tokohnya Umar Al Farukhan sebagai insinyur arsitek pembangunankotaBaghdaddan Al – Khawarizmi yakni pengarang kitab Al Gebra (Al Jabar) dan penemu angaka nol ( 0 ).
  4. Bidang astronomi dengan tokohnya Al Farazi, Al Gaffani, Abul wafat dan Al Farghuni.
  5. Bidang seni ukir dengan tokohnya Badr dan Tariff.
  6. Ilmu tafsir dengan Ibnu Jarir ath- Thabary, Ibnu Athiyah al- Andalusy, dan lain-lain.
  7. Ilmu hadits dengan Imam Bukhari, Imam Muslim, Ibnu Majah, Abu Daud, Tirmidzi, dan lain-lain.
  8. Ilmu kalam dengan Wasil bin Atha’, Abu Huzail al Allaf, Adh Dhaam, dan lain-lain.
  9. Ilmu tasawwuf dengan Al Qusayiry, Syahabuddin, dan lain-lain.
  10. Ilmu fiqh dengan Imam Ghazali, Imam Malik, Imam Syafi’I, Imam Ahmad bin Hambal dan para Imam Syi’ah.

Pada masa ini, orang-orang mampu mengimpor barang dagangan, seperti rempah-rempah, kapur barus, dan sutra dari kawasanAsiayang lebih jauh. Juga mengimpor gading kayu eboni dan badak kulit hitam dari Afrika. Tingkat aktivitas perdagangan semacam itu didukung pula oleh pengembangan industri rumah tangga dan pertanian yang maju.

Bidang pertanian maju pesat pada awal pemerintahan Dinasti Abbasiyah karena pusat pemerintahan berada di daerah yang sangat subur, ditepian sungai dikenal dengan nama Sawad. Pertanian merupakan sumber utama pemasukan Negara dan pengolahan tanah hamper sepenuhnya dikerjakan oleh penduduk asli, yang statusnya mengalami peningkatan pada Rezim baru. Lahan-lahan pertanian yang terlantar, dan desa-desa yang hancure di berbagai wilayah kerajaan diperbaiki dan dibangun kembali secara bertahap.

Begitu besar kemajuan yang dicapai oleh Dauloah Abbasiyah. Saat Abbasiyah mengalami kejayaan, sebaliknya Eropa mengalami kemunduran. Abad XI, Eropa mulai menyadari kehadiran peradaban Islam yang tinggi di wilayah Timur.

  1. 5.      Lembaga Pendidikan dan Perpustakaan

Dukungan kuat dari para kholifah, terutama Harun ar- Rasyid dan al- Ma’mun terhadap ilmu pengetahuan dibuktikan dengan pengalokasian anggaran khusus untuk menggaji para penterjemah dari golongan Kristen, kaum sabi, bahkan para penyembah bintan. Lembaga pendidikan Islam pertama untuk pengajara yang lebih tinggi tingkatannya adalah bait Al Hikmah (Rumah kebijakan) yang didirikan oleh Al Ma’mun (830 M) di Baghdad, ibukotaNegara. Selain berfungsi sebagai pusat kajian akdemis dan perpustakaan umum, serta memiliki sebuah observatorium. Pada saat itu, observatorium-observatorium yang banyak bermunculan juga berfungsi sebagai pusat-pusat pembelajaran astronomi.

Perpustakaan (Khizanat al- kutub) dibangun di Syiraz oleh penguasa Buwaihi, Adud ad- Daulah (977 – 982 M) yang semua buku-bukunya disusun di atas lemari-lemari, didaftar dalam katalog, dan diatur dengan baik oleh staf administrator yang berjaga secara bergiliran. Pada abad yang sama, kotaBashrah memiliki sebuah perpustakaan yang di dalamnya para sarjana bekerja dan mendapatkan upah dari pendiri perpustakaan. Dan kotaRayy terdapat sebuah tempat yang disebut Rumah Buku. Hal itu dikarenakan tempat tersebut menyimpan ribuan manuskrip yang diangkut oleh lebih dari empat ratus ekor unta. Seluruh naskah itu kemudian didaftar dalam sepuluh jilid katalog.

Selain perpustakaan, gambaran tentang budaya baca pada periode ini bisa juga dilihat dari banyaknya toko buku. Toko-toko itu, yang juga berfungsi sebagai agen pendidikan, mulai muncul sejak awal kekahlifahan Abbasiyah.

  1. 6.      Kontribusi Akademis Masa Abbasiyah dalam Khazanah Tradisi dan Peradaban Islam

Sebagaimana diketahui sebelumnyabahwa kebebasan berpikir diakui sepenuhnya sebagai hak asasi setiap manusia oleh Daulah Abbasiyah. Oleh karena itu, pada waktu itu akal dan pilihan benar-benar dibebaskan dari belenggu taqlid, sehingga orang leluasa mengeluarkan pendapat. Berawal dari itu, zaman pemerintahan abbasiyah awal melahirkan 4 imam Madzhab yang ulang, mereka adalah Syafi’i, Hanafi, Hambali, Dan Maliki.

Disamping, itu, zaman pemerintahan Abbasiyah awal itu juga melahirkan ilmu tafsir Al-Qur’an dan pemisahannya dari ilmu Hadits. Sebelumnya, belum terdapat penafsiran seluruh Al-Qur’an, yang ada hanyalah tfsir bagi sebagian ayat dari berbagai surah yang dibuat untuk tujuan tertentu.

Dalam Negara Islam di masa Bani Abbasiyah berkembang corak kebudayaan, yang berasal dari beberapa bangsa. Apa yang terjadi dalam unsure bangsa, terjadi pula dalam unsure kebudayaan. Dalam masa sekarang ini berkembang empat unsur kebudayaan yang mempengaruhi kehidupan akal atau rasio yaitu kebudayaan Persia, kebudayaan Yunani, kebudayaan Hindi dan kebudayaan Arab serta berkembangnya ilmu pengetahuan.

  1. 7.      Tokoh Akademis dan Ilmuwan yang Berpengaruh dan Menjadi Figur pada Masa Abbasiyah

Masa Dinasti Abbasiyah adalah masa keemasan atau kejayaan umt Islam sebagai pusat dunia dalam berbagai aspek perdaban. Kemajuan itu hampir mencakup semua aspek kehidupan. Kemajuan-kemajuan yang dicapai pada masa ini tidak lepas dari peran para ilmuwan dan tokoh-tokoh yang sangat berpengaruh. Diantara tokoh-tokoh dan ilmuwan yang yang menjadi figur sesuai bidangnya antara lain :

  1. Ilmu Filsafat

Q  Al Kindi ( 809-873 M ) dengan bvuu karangannya sebanyak 236 judul

Q  Al Farabi ( wafat tahun 916 H ) dalam usia 80 tahun

Q  Ibnu Bajah ( wafat tahun 523 H )

Q  Ibnu Thufail ( wafat tahun 581 H )

Q  Ibnu Sina ( 980-1037 M ). Karangan-karangan beliau yang terkenal antara lain : Shafa, Najat, Qoman, Saddiya dan lain-lain

Q  Al Ghazali ( 1085-1101 M ). Dikenal sebagai Hujjatul Islam. Karangannya antara lain Al-Munqizh Min Adl-Dlalal, Tahafutul Falasifah, Mizanul Amal, Ihya’ ’Ulumiddin dan lainnya.

Q  Ibnu Rusd ( 1126-1198 ). Karangannya : Kulliyat, Tafsir Urjuza, Kasful Afillah, dll.

  1. Bidang Kedokteran

Q  Jabir bin Hayyan ( wafat 778 M ). Sebagai bapak kimia

Q  Hurain bin Ishaq ( 810-878 M ). Ahli mata yang terkenal disamping sebagai penerjemah bahasa asing.

Q  Thabib bin Qurra ( 836-901 M )

Q  Ar Razi atau Razes ( 809-873 M ). Karangan yang terkenal mengenai cacar dan diterjemahkan dalam bahasa latin.

  1. Bidang Matematika

Q  Umar Al Farukhan : Insinyur arsitek pembangunan kota Baghdad.

Q  Al Khawarizmi : Pengarng kitab Al Gebra ( Al Jabar ) dan penemu angka nol .

  1. Bidang Astronomi

Q  Al Farazi : Pencipta Astro Lobe

Q  Al Gattani / Al Betagnius

Q  Abul Wafat : menemukan jalan ketiga dari bulan

Q  Al Farghoni atau Al Fragenius

  1. Bidang Seni Ukir

Q  Badr

Q  Tariff ( 961-976 M )

  1. Ilmu Tafsir

Q  Ibnu Jarir Ath Thabary

Q  Ibnu athiyah al Andalusy ( wafat 147 H )

Q  As Suda

Q  Mupatil bin Sulaiman ( wafat 150 H )

Q  Muhammad bin Ishaq

  1. Ilmu Hadits

Q  Imam Bukhori ( 194-256 H )

Q  Imam Muslim ( wafat 231 H )

Q  Ibnu Majah ( wafat 273 H )

Q  Abu Daud ( wafat 275 H )

Q  At Tarmidzi

  1. Ilmu Kalam

Q  Wasil bin Atha’

Q  Abu Huzail Al Allaf

Q  Adh Dhaam

Q  Abu Hasan ASy’ary

Q  Imam Ghozali ( Hujjatul Islam )

  1. Ilmu Tasawuf

Q  Al Qusyairy (wafat 465 H ) : Risalatul Qusyairiyah

Q  Syahabuddin ( wafat 632 H ) : Awariful Ma’arif

Q  Imam Ghazali : Al Bashut, Al Wajiz,dll.

  1. Ilmu Fiqh

Q  Imam Abu Hanifah

Q  Imam Malik

Q  Imam Syafi’i

Q  Imam Ahmad bin Hambal

Q ParaImam Syi’ah

Semua tokoh dan ilmuwan diatas adalah orang-orang yang berpengaruh dalam kemajuan Dinasti Abbasiyah dalam bidang ilmu pengetahuan. Karangan-karangan mereka berhasil membawa peradaban Islam ke mata dunia.

  1. 1.      Kesimpulan

Dinasti Abbasiyah resmi berdiri sejak tumbangnya Dinasti Umayyah dengan dikalahkannya Marwan bin Muhammad oleh Abu al Abbas al Saffah pada tahun 132 H / 750 M di Fustat, Mesir. Sat itu, Abu al Abbas al Saffah dibantu oleh Abu Muslim Al Khurasani. Ada yang membagi masa kekuasaan Dinasti Abbasiyah dalam 3 periode dan ada yang membagi dalam 5 periode.

Perkembangan yang terjadi pada masa pemerintahan Abbasiyah antara lain dalam bidang tata usaha, militer, ilmu pengetahuan, sains, fiqh, tasawuf, filsafat, pertanian, perdagangan dan lain sebagainya. Khalifah Al Ma’mun mendirikan perpustakan dengan nama Bait al Hikmah sebagai tempat pendidikan Islam pertama tingkat lanjutan yang memiliki observatorium dan merupakan pusat penerjemah buku-buku Yunani.

Masa keemasan ( Golden Prime ) Abbasiyah terletak pada periode pertama Dinasti Abbasiyah, yakni antara kekhalifahan Al Mahdi, khalifah ke sembilan, Al Watsiq, dan lebih khusus lagi pada masa Harun ar Rasyid dan putranya, Al Ma’mun. Karena kehebatan dua khalifah itulah, Dinasti Abbasiyah memiliki kesan baik dalam ingatan publik, dan menjadi dinasti paling terkenal dalam sejarah Islam.

Dalam bidang sains, banyak tokoh-tokoh yang berperan seperti : Ibnu Sina, Al Farabi, Ar Razi, dan lainnya. Setelah periode pertama selesai, Bani Abbasiyah sedikit demi sedikit mengalami kemunduran. Puncak kemunduran Bani Abbasiyah adalah abad ke-13  dikarenakan persaingan antar bangsa, kemerosotan ekonomi, konflik keagamaan, ancaman dari luar, serta lemahnya khalifah.

REFERENSI

Yatim, Badri. 2000, Sejarah Peradaban Islam, Cet.VII. Jakarta:Raja Grapindo Persada.

Aen, Nurol. Sejarah Peradaban Islam, Bandung:CV Pustaka Setia, 2008.

Shalabi, A. 2003, Sejarah Kebudayaan Islam, Jakarta:Pustaka Al Husnah Baru

Nurhakim, Moh. 2004, Sejarah Peradaban Islam, Malang:UMM Press

Mubarok, Jain. 2005, Sejarah Peradaban Islam, Bandung:Pustaka Bani Quraisy.

Posted May 10, 2011 by duRroH moenfaRida in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: