ILMU TASAWUF DENGAN ILMU JIWA   Leave a comment

Tasawuf adalah pembersihan diri. Merupakan suatu perpindahan kehidupan, yaitu dari kehidupan kebendaan pada kehidupan kerohanian. Tasawuf bertujuan memperoleh suatu hubungan khusus langsung dari Tuhan. Hubungan yang dimaksud mempunyai makna dengan penuh kesadaran bahwa manusia sedang berada di hadirat tuhan. Kesadaran tersebut akan menuju kontak komunikasi dan dialog antara roh manusi dengan Tuhan. Hal ini melalui cara pengasingan diri. Keberadaannyan yang dekat dengan Tuhan akan berbentuk ittihad (bersatu dengan Tuhan). Hal ini menjadi inti persoalan sufisme, baik pada agama Islam maupun di luarnya.

Dengan pemikiran di atas, dapat dipahami bahwa tasawwuf adalah ilmu yang mempelajari suatu cara agar seseorang dapat mudah berada di hadirat Alloh SWT. Gerakan kejiwaan penuh dirasakan untuk memikirkan dengan sungguh-sungguh suatu hakikat kontak hubungan yang mampu menelaah informasi dari Tuhannya.

Dalam pembahasan tasawwuf dibicarakan tentang hubungan jiwa dengan badan agar tercipta keserasian diantara keduanya. Pembahasan tentang jiwa dan badan ini dikonsepsikan para sufi untuk melihat sejauh mana hubungan perilaku yang dipraktikkan manusia dengan dorongan yang dimunculkan jiwanya sehingga kekuatan itu dapat terjadi. Dari sini baru muncul kategori-kategori perbuatan manusia sebagai perbuatan jelek atau perbuatan baik. Jika perbuatan yang ditampilkan seseorang baik, ia disebut orang yang berahlak baik. Sebaliknya, jika perbuatan yang ditampilkan buruk, ia disebut orang yang berahlak buruk.

Dalam pandangan kaum sufi, ahlak dan sifat seseorang bergantung pada jenis jiwa yang berkuasa atas dirinya. Jika yang berkuasa dalam tubuhnya adalah nafsu-nafsu hewani, yang akan tampil dalam perilakunya adalah perilaku hewani. Sebaliknya jika yang berkuasa adalah nafsu insani, yang akan tampil dalam perilakunya adalah perilaku insani.

Bukan merupakan sesuatu yang berlebih-lebihan bila mengatakan bahwa para sufi adalah pakar ilmu jiwa sekaligus dokter jiwa. Seringkali datang kepada Syekh sufi, orang-orang yang menderita penyakit kejiwaan, lalu mereka mendapatkan perasaan santun, keikutsertaan perasaan, perhatian, rasa aman, dan ketenangan di sisinya. Inilah salah satu sebab dalam percakapan sehar-hari, orang banyak mengaitkan tasawwuf dengan unsur kejiwaan dalam diri manusia. Hanya saja dalam jiwa yang dimaksud adalah jiwa manusia muslim, yang tentunya tidak lepas dari sentuhan-sentuhan keislaman. Dari sinilah, tasawwuf terlihat identik dengan unsur kejiwaan manusia muslim.

Harus diakui memang jiwa manusia seringkali sakit. Ia tidak akan sehat sempurna tanpa melakukan perjalanan menuju Allah dengan benar. Jiwa manusia juga membutuhkan pperilaku (moral) yang luhur sebab kebahagiaan tidak akan dapat diraih tanpa akhlak yang luhur, juga tidak dapat menjadi milik tanpa melakukan perjalanan menuju Allah.

Bagi orang yang dekat dengan Tuhannya, yang akan tampak dalam kepribadiannya adalah ketenangan. Perilakunya juga akan menampakkan perilaku atau akhlak-akhlak yang terpuji. Semua ini bergantung pada kedekatan manusia dengan Tuhannya inilah yang menjadi garapan dalam tasawuf. Dari sinilah, tampak keterkaitan erat antara ilmu tasawuf. Dari sinilah, tampak keterkaitan erat antara ilmu tasawuf dan ilmu kesehatan mental.

Posted May 10, 2011 by duRroH moenfaRida in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: