INTERFERENSI BAHASA   Leave a comment

Istilah interferensi pertama kali digunakan oleh Weinreich (1953) untuk menyebut adanya perubahan sistem suatu bahasa sehubungan dengan adanya persentuhan bahasa tersebut dengan unsure-unsur bahasa lain yang dilakukan oleh penutur yang bilingual. Penutur yang bilingual adalah penutur yang menggunakan dua bahasa secara bergantian; dan penutur multilingual, kalau ada, tentu penutur yang dapat menggunakan banyak bahasa secara bergantian. Namun, kemampuan setiap penutur terhadap B1 dan B2 sangat bervariasi. Ada penutur yang menguasai B1 dan B2 sama baiknya, tetapi ada pula yang tidak, malah ada yang kemampuannya terhadap B2 sangat minim.

Penutur bilingual yang memiliki kemampuan terhadap B1 dan B2 sama baiknya, tentu tidak mempunyai kesulitan untuk menggunakan kedua bahasa itu kapan saja diperlukan, karena  tindak laku kedua bahasa itu terpisah dan bekerja sendiri-sendiri. Penutur bilingual yang mempunyai kemampuan seperti ini oleh Ervin dan Osgood (1965:139) disebut berkemampuan bahasa yang sejajar. Sedangkan yang kemampuan terhadap B2-nya jauh lebih rendah atau tidak sama dari kemampuan terhadap B1-nya disebut berkemampuan bahasa yang majemuk. Penutur yang mempunyai kemampuan majemuk ini biasanya mempunyai kesulitan dalam menggunakan B2-nya karena akan dipengaruhi oleh kemampuan B1-nya.

Weinreich (1968:1) juga mengatakan bahwa interferensi adalah bentuk penyimpangan penggunaan bahasa dari norma-norma yang ada sebagai akibat adanya kontak bahasa karena penutur mengenal lebih dari satu bahasa. Interferensi berupa penggunaan bahasa yang satu dalam bahasa yang lain pada saat berbicara atau menulis. Didalam proses interferensi, kaidah pemakaian bahasa mengalami penyimpangan karena adanya pengaruh dari bahasa lain. Pengambilan unsur yang terkecil pun dari bahasa pertama ke dalam bahasa kedua dapat menimbulkan interferensi.

Dalam proses interferensi, terdapat tiga unsur yang mengambil peranan, yaitu: Bahasa sumber atau bahasa donor, bahasa penyerap atau bahasa resipien, dan unsur serapan atau importasi.  Dalam peristiwa kontak bahasa, mungkin sekali pada suatu peristiwa, suatu bahasa menjadi bahasa donor, sedangkan pada peristiwa yang lain bahasa tersebut menjadi bahasa resipien. Saling serap adalah peristiwa umum dalam kontak bahasa.

Hortman dan Stork melalui Alwasilah (1985:131) menganggap interferensi sebagai kekeliruan yang disebabkan terbawanya kebiasaan-kebiasaan ujaran bahasa atau dialek bahasa ibu ke dalam bahasa atau dialek kedua. Maksud interferensi merupakan kekeliruan yang disebabkan oleh adanya kecenderungan membiasakan pengucapan (ujaran) suatu bahasa terhadap bahasa lain, mencakup pengucapan satuan bunyi, tata bahasa, dan kosakata.

Menurut (Suwito, 1983:59) interferensi bahasa Indonesia dengan bahasa daerah berlaku bolak-balik, artinya unsur bahasa daerah bisa memasuki unsur bahasa Indonesia begitu pula sebaliknya. Namun, untuk bahasa asing interferensi cenderung hanya secara sepihak, maksudnya bahasa Indonesia sebagai bahasa resipien dan bahasa asing sebagai bahasa donor. Berikut bagan interferensi antara ketiga bahasa tersebut:

A1

A2

A3

D1

D2

D3

Bahasa Indonesia

Bahasa Asing                                                                 Bahasa Daerah

(Chaer & Agustina:2004) tidak sependapat dengan Suwito, mereka berpendapat bahwa bahasa itu erat kaitannya dengan budaya masyarakat penuturnya. Maka dapat dikatakan bahwa bahasa yang “miskin” kosakata pun dapat menjadi donor kosakata kepada bahasa “kaya”, terutama untuk kosakata yang berkenaan dengan budaya dan alam lingkungan bahasa donor. Jadi, interferensi leksikal bukanlah ditentukan oleh kaya dan miskin suatu bahasa, melainkan oleh pengaruh budaya masyarakat bahasa yang melekat pada bahasa itu.

Bahasa Asing                                                                          Bahasa Daerah

A1                                    Bahasa                                                 D1

A2                                  Indonesia                                              D2

A3                                                                                                            D3

Dari beberapa pendapat mengenai batasan interferensi, dapat diketahui bahwa interferensi merupakan akibat dari kontak bahasa yang pada dasarnya merupakan pemakaian dua buah sistem secara serempak kepada suatu unsur bahasa. Pada umumnya interferensi dianggap sebagai gejala tutur (speech parole), dan hanya terjadi pada diri bilingual, sedangkan peristiwanya dianggap sebagai sesuatu yang tidak perlu terjadi karena unsur-unsur serapan itu sebenarnya sudah ada padanannya dalam bahasa penyerap.

Posted May 4, 2011 by duRroH moenfaRida in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: