LATERALISASI SEREBRAL   Leave a comment

“Lateralisasi merupakan proses pengkhususan fungsi dari dua belah otak yang terjadi karena  penyebelahan menjadi dua bagian, yakni hemisfer kanan dan hemisfer kiri. Perkembangan tersebut biasa muncul pada diri anak menginjak usia dua tahun sampai menjelang masa pubertas yang terjadi secara perlahan-lahan.” ( H.D.Brown )

Kecuali beberapa orifice (lubang) garis tengah, hampir setiap manusia itu memiliki dua hal, satu di kiri dan satu di kanan. Bahkan, otak yang oleh kebanyakan orang dianggap sebagai self yang uniter dan tidak dapat dibagi, merefleksikan prinsip umum duplikasi bilateral ini. Di bentangan bagian atasnya, otak terdiri dari dua struktur yakni hemisfer (belahan) serebral kiri dan kanan yang seluruhnya terpisah kecuali cerebral commissures (komisura serebral) yang menghubungkannya. Hemisfer kiri dan kanan otak manusia memilki kemampuan – kemampuan yang berbeda dan memiliki kapasitas untuk berfungsi secara independen (untuk memiliki pikiran, ingatan, dan emosi yang berbeda).

Pada 1836, Marc Dax, seorang dokter pedesaan yang tidak banyak dikenal , mempresentasikan sebuah laporan pendek dalam sebuah masyarakat medis di Perancis. Presentasi ilmiah itu adalah yang pertama dan satu-satunya. Dax tersentak oleh kenyataan bahwa di antara kira-kira 40 pasien dengan kerusakan otak dan masalah bicara yang ditemuinya selama karirnya, tidak satupun yang mengalami kerusakan yang terbatas pada hemisfer kanannya. Makalah penting Dax hanya memberikan dampak yang kecil karena kebanyakan orang pada saat itu percaya bahwa otak bekerja secara keseluruhan dan bahwa fungsi – fungsi spesifik tidak dapat diatribusikan pada bagian – bagian tertentu di otak.

Pandangan ini  mulai berubah 25 tahun setelah itu, ketika Paul Broca melaporkan pemeriksaan posmotermnya terhadap dua pasien aphasia. Aphasia (afasia) adalah defisit yang dihasilkan kerusakan otak terhadap kemampuan menghasilkan atau memahami bahasa. Kedua pasien Broca memiliki lesi hemisfer-kiri yang melibatkan sebuah daerah di korteks frontal, tepat di depan daerah wajah korteks motorik primer. Broca pada awalnya tidak menyadari bahwa ada hubungan antara afasia dan sisi kerusakan otak. Ia belum pernah mendengar laporan Dax, tetapi pada 1864, broca pernah melakukan pemeriksaan posmoterm terhadap tujuh pasien ataksia  lain dan ia terperangah melihat kenyataaan bahwa  seperti kedua pasien yang pertama tadi, mereka semuanya memiliki kerusakan pada korteks prefrontal inferior hemisfer-kirinya yang kemudian dikenal sebagai Broca’s area.

Dampak dari bukti bahwa hemisfer-kiri memainkan peran khusus dalam bahasa dan gerakan yang disengaja telah memunculkan konsep dominansi serebral. Menurut konsep ini, salah satu hemisfer – biasanya yang kiri – menjalankan peran dominan dalam mengontrol proses perilaku dan kognitif yang kompleks , sedangkan yang lainnya hanya  memainkan peran kecil. Konsep ini mengakibatkan praktik penyebutan hemisfer-kiri sebagai hemisfer dominan dan hemisfer-kanan sebagai hemisfer minor.

Untuk banyak fungsi, tidak ada perbedaan substansial di antara kedua hemisfer, dan bila perbedaan substansial itu ada, perbedaan itu cenderung berupa bias kecil yang condong ke salah satu hemisfer, bukan perbedaan absolut (Brown & Kosslyn, 1993). Dengan mengabaikan fakta-fakta ini, media populer menggambarkan perbedaan serebral kiri dan kanan sebagai perbedaan yang  absolut. Akibatnya, secara luas diyakini bahwa berbagai kemampuan secara eksklusif terletak pada salah satu hemisfer. Sebagai contoh, secara luas diyakini bahwa hemisfer-kanan memilki kontrol eksklusif untuk emosi dan kreativitas.

Teori-teori awal tentang lateralitas serebral cenderung menganggap klaster-klaster kompleks berbagai kemampuan mental terletak di salah satu hemisfer. Hemisfer-kiri cenderung menunjukkan kinerja yang lebih baik pada tugas-tugas bahasa, sehingga ia diduga dominan untuk kemampuan-kemampuan  terkait bahasa. Hemisfer-kanan cenderung menunjukkan kinerja yang lebih baik pada beberapa tes spasial, sehingga  ia diduga dominan untuk kemampuan-kemampuan terkait ruang dan seterusnya. Barangkali ini adalah langkah pertama yang masuk akal, tetapi sekarang konsensus di kalangan para peneliti adalah pendekatan ini terlalu simplisistik.

Masalahnya adalah kategori seperti bahasa, emosi, kemampuan musikal, dan kemampuan spasial masing-masing terdiri atas berlusin-lusin aktivitas kognitif individual yang berbeda, dan tidak ada alasan untuk berasumsi bahwa semua aktivitas yang terkait dengan sebuah label pasti dilateralisasikan ke hemisfer yang sama. Ketidaktepatan kategori-kategori luas untuk lateralisasi selebral itu telah dikonfirmasikan. Bagaimana mungkin untuk mengatakan bahwa semua kemampuan terkait bahasa terlateralisasi di hemisfer kiri, bila hemisfer kanan terbukti unggul dalam memersepsi pembicaraan dan identitas si pembicara (Beeman & Chiarello, 1998).

Setiap konsep yang diungkapkan para peneliti dari hasil riset mereka sebenarnya hampir sama, hanya saja terdapat beberapa hasil dan asumsi yang berbeda dikarenakan riset yang berbeda pula. Meskipun demikian, pada  intinya mereka menyimpulkan bahwa otak terlateralisasi menjadi dua bagian baik terlateralisasi secara dominan di salah satu hemisfer atau hanya merupakan bias-bias kecil yang mengkhususkan fungsi kedua belah otak tapi tidak secara dominan.

Posted May 10, 2011 by duRroH moenfaRida in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: